Sampai bertemu di surga, Eyang

Sampai bertemu di surga, Eyang

Assalamualaikum, Eyang.

Eyang gimana kabarnya di sana? Rasanya baru kemarin aku peluk eyang, pamit mau ke Jakarta.

“Eyang sehat terus yaa di sini..” sampai air mataku menetes. Baru beberapa detik kemudian eyang ngelepasin pelukannya.

 

Kemarin aku mau lihat eyang untuk yang terakhir kali sebelum eyang istirahat, tapi nggak nutut. Maaf ya eyang, aku belum sambang ke tempat eyang juga. Semoga Allah selalu menyayangi eyang.

 

Eyang, eyang nggak usah ngerasa bersalah ya bulan lalu nggak bisa dateng ke wisudaku. Kalo eyang dateng nanti nggak kuat, lebih baik eyang di rumah dulu. Maaf belum sempet foto bareng eyang sambil pakai toga. Padahal eyang pingin ya? Aku juga. Banget.

 

Tapi aku bakal inget pesennya eyang kok, aku nggak bakal berhenti kuliah sampe D1 aja, aku bakal lanjut D3 atau S1 eyang.. Seperti kata eyang.

 

Eyang, aku kangen eyang. Tolong doakan aku dari sana ya eyang, semoga nanti kita bisa sama sama lagi.

Wassalamualaikum eyang, aku sayang eyang :)

Kedamaian

Kedamaian

Angin ribut telah berhenti setelah menggoyang-goyangkan dahan-dahan dan ranting-ranting. Bintang-bintang nampak jelas seolah-olah tersisa petir yang pecah di kulit langit. Kebun-kebun itu juga telah tenang kembali seolah perang yang dahsyat tak pernah terjadi.

Saat itu ada seorang gadis masuk ke dalam kamarnya, berbaring di ranjangnya lalu menangis tersedu, kemudian keluh kesahnya semakin menjadi dan nafas-nafasnya yang panas menyatu dengan kata-kata ini: Hei Tuhan kembalikan dia padaku, air mataku telah mengering, nafas-nafas terakhirku telah meleleh. Hei Ruh Yang Agung kembalikan dia dengan hikmah yang meninggikan kepintaran manusia; derita telah membuatku meradang dan putus asa. Lepaskan dia dari kuku peperangan yang kejam. Selamatkan dia dari maut yang kejam dan kasihanilah dia sebagai seorang pemuda yang lemah, berilah dia kekuatan sehingga aku hanya akan menjadi miliknya. Hei cinta kalahkanlah musuhmu dan selamatkanlah kekasihku karena dia juga anakmu. Hei maut menjauhlah dari dia dan biarkanlah dia melihatku atau kemarilah dan bawalah aku pada kekasihku.

Saat itu lalu masuklah seorang pemuda dengan kepala dibalut kain putih bertuliskan huruf-huruf berwarna merah lalu ia mendekati gadis itu dan menyapanya dengan air mata dan senyuman. Lantas ia pegang tangan gadis itu dan meletakkannya di atas kedua bibirnya yang gemetaran lalu dengan penuh perasaan getar-getar cinta yang mengharukan dan kerinduan yang dalam pemuda itu berkata: Jangan kamu lari karena orang yang kamu tangisi telah datang, bergembiralah sebab kedamaian telah dikembalikan padamu dari perang yang telah mencurinya, aku kembali padamu sebagai pemuda biasa yang tak pernah dirampas oleh orang jahat. Hei kekasihku hapuslah air matamu dan tersenyumlah, kerena setiap bangsa memiliki pemimpin yang penuh kasih ketika kekerasan terhadap umatnya telah sirna. Jangan kamu cemaskan lukaku, karena cinta memiliki tanda yang terlihat oleh mata yang karena itu maut pergi, lalu musuh melihat tanda itu terus mundur. Aku adalah dia, jangan kamu kira aku ini khayalan yang datang dari keranda kematian yang datang ke rumah di musim semi yang di dalamnya tinggal kecantikan dan kedamaianmu. Jangan kamu takut karena aku benar-benar selamat dari topan dan api untuk mengabarkan kepada manusia akan kemenangan cinta atas perang. Aku adalah sebuah kata yang diucapkan oleh orang yang cinta damai untuk menjadi sebuah bagian dalam riwayat kebahagiaanmu.

Saat itu lidah terasa terkunci dan air mata menggantikan kata-kata dan peri kegembiraan mengelilingi dangau kecil itu. Dan dua hati telah kembali setelah kehilangan saat perpisahan.

Dan ketika pagi datang kedua orang muda itu berdiri di tengah kebun. Mereka berdua merenungi keindahan alam, dan setelah merasakan damai dari banyak kejadian dengan seluruh yang ada dalam kejadian-kejadian itu, pemuda itu memandang ke arah timur jauh dan berkata kepada kekasihnya: Lihatlah matahari yang terbit dari kegelapan itu.

Kahlil Gibran

.

.

Entah, belum pernah aku bahagia ketika wisuda. Karena nanti aku harus memulai hal baru lagi, mengalami pertemuan kembali, dan berakhir dengan perpisahan.

Sedang aku tidak suka dengan perpisahan.

Happy Graduation Day, teman teman seperjuanganku. 146/146. Terimakasih untuk semuanya selama satu tahun yang sangat berharga ini. Aku sangat sayang kalian tanpa kecuali.

Semoga kita sukses bersama :)

.

.

Seandainya pun kita nanti lama tidak bertemu,

atau bahkan tidak bisa bertemu lagi,

aku tidak akan membencimu.

Dan terimakasih telah mengenalku selama ini, Di.