#Tragedi1

#Tragedi1

Rasa-rasanya banyak sekali hal aneh yang belakangan ini terjadi padaku. Sejak aku menjalani kehidupanku sebagai calon PNS di Pasuruan.

Mulai dari….

Aku sedang magang di KPPBC Pasuruan dan nggak pulang-pergi Malang-Pasuruan. Setiap Jumat malam aku pulang naik kereta api ekonomi tujuan Stasiun Malang Kota Baru, dan kembali lagi ke Pasuruan hari Minggu naik kereta dengan tujuan Stasiun Bangil. Ini mumpung penempatanku masih dekat dengan kampung halamanku, sebisa mungkin harus pulang tiap week end!

Suatu pagi, aku harus kembali ke Pasuruan dengan jadwal keberangkatan kereta pukul 07.00 WIB. Karena datang mepet, aku buru-buru tanya pak petugas jaga-nya, dan bilang kalo kereta penataran di jalur dua. Aku lari lewat lorong bawah tanah (emang gitu kalo di stasiun Malang) dan berdiri di pinggir jalur dua. Selamatlah aku, kereta baru datang dan aku yang sebenarnya nggak dapat tempat duduk bisa dapet tawaran tempat duduk dari ibu-ibu yang baik hati. Jadi selama satu jam lebih dua puluh menit aku nggak bakal berdiri sia-sia.

Aku duduk dan mulai membaca novelku, sampai–akhirnya aku sadar–kereta berhenti, dan ada tulisan Stasiun Kepanjen.

Stasiun Kepanjen.

Stasiun Kepanjen?!

Keringatku mulai mengucur deras dan dingin. Perasaanku nggak enak. Karena aku tau, kalau mau ke Stasiun Bangil itu nggak melewati Stasiun Kepanjen, melainkan Stasiun Blimbing, dst.

Dan akhirnya aku sadar kalau aku salah kereta setelah tanya ibu-ibu di depanku. Aku disuruh turun dari kereta sebelum kereta itu menuju stasiun berikutnya yang otomatis semakin jauh dari Stasiun Bangil……………

Dengan berbekal Rp 10.000 dan tidak bawa hp karena sedang diservis akibat jatuh dari wahana yang terbang-terbang di Jatim Park 1, aku sedikit putus asa. Nggak bisa telepon mama, bilang “Ma aku nyasar di Stasiun Kepanjen”, nggak kenal siapa-siapa buat pinjem hp (ntar dikira modus begal), dan nggak ada wartel.Satu-satunya yang bisa aku tanyai cuma Pak Ojek.

“Pak, naik ojek ke Malang bisa Rp 10.000 nggak, Pak?”

Bapaknya geleng-geleng menjelaskan ke aku yang berwajah melas, bahwa ojek ke Malang minimal Rp 35.000. Akhirnya aku disarankan naik angkot dua kali. Yang setelah aku naikin bener-bener menghabiskan waktu satu jam sendiri–itu lama–bahkan kalau nggak nyasar aku sudah sampai di Stasiun Bangil dari tadi.

Akhirnya setelah sampai di Malang, aku ke atm BNI terdekat dan ambil uang di sana. Mampir ke KFC bentar, menghibur diri dan beli pancake (bukan promosi). Terus pas pulang, nyampe depan pintu rumah yang terbuka, dan mama papa yang terbelalak kaget melihatku kembali ke rumah–bukannya udah di Pasuruan–harusnya mereka senang.

Tragedi ini berakhir dengan Papa mengantarku ke Pasuruan naik motor. Papaku pahlawanku.

((Salah naik kereta)) –End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s