Aside

Rindu

Aku rindu kampung halamanku.
Setiap kali membuka mata, ingin sekali rasanya tiba-tiba berada di rumah. Mencium aroma kamarku, melihat wajah mama yang sebal karena aku susah dibangnkan, menunggu papa yang selalu masuk kamarku sambil menyebut namaku berkali-kali, melihat adikku yang hampir setiap pagi tergesa-gesa karena bersiap untuk sekolah. Aku rindu menggenggam tangan nenek, menuntunnya ke kamar beliau, memegang erat jemarinya yang mulai lemah agar nanti tidak jatuh saat di kamar mandi.

Aku sangat rindu kampung halamanku.
Tidak ada hal yang bisa menggantikan perasaan lega itu–ketika aku keluar dan menghirup udara segar di halaman rumah–walaupun di sini udara pagi juga masih segar. Suasana ketika berjalan kaki menyusuri jalan yang di pagari oleh pohon-pohon besar dan tua, rasanya sejuk dan menenangkan. Tidak akan pernah bosan.
Aku rindu melihat warna hijau rumput di halaman, menarik pagar yang unik dan susah ditarik itu, melihat biasan cahaya matahari dari sela-sela dedaunan pohon rambutan milik nenek. Aku rindu semuanya.

Baru dua minggu yang lalu aku kembali berada di sini, tapi kenapa rasanya masih ingin pulang?

Advertisements

5 thoughts on “Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s