another story

about art, nowadays.

sejujur-jujurnya, aku cinta seni. aku mulai menyukainya sejak menginjakkan kakiku di taman kanak-kanak. bahkan sejak aku belum sekolah.

aku begitu menikmatinya; saat kelulusan dari taman kanak-kanak, aku menari di panggung perpisahan, dan menyanyi himne guru bersama-sama. ketika di sekolah dasar, aku mengikuti ekstrakulikuler menggambar. aku mendapat nilai tinggi saat kelas 6 sd, melukis menggunakan cat acrylic. di lingkungan rumah, aku jagonya merebut juara mewarna saat lomba kemerdekaan RI. memasuki masa smp, aku mengikuti les bermain keyboard. obsesi menjadi pianis (walaupun nggak disetujui), tapi aku selalu mempelajari hal-hal tentang piano klasik, lagu klasik, memahaminya dan memainkannya. begitu menyenangkan. di sela-sela waktuku, aku iseng menorehkan tinta pada sketch book-ku. aku termasuk jarang melukis, tapi sekali melukis aku menikmatinya. lukisan pertamaku di kanvas saat kelas 8, menggunakan cat acrylic. lukisan kedua dan ketiga saat kelas 9, menggunakan cat minyak. keren banget, warna dari cat minyak. indah. dan lukisan keempatku saat kelas 10, menggunakan cat air. next time i’m sure i’ll post it cause i’m enjoying it ;)

tapi.

tahun 2011. pelajaran seni terasa menyeramkan bagiku, bahkan mungkin bagi orang lain di sekitarku. kau tahu kenapa? guru sma saya, bapak *****, entah kenapa melatih kami menari selama satu tahun. penuh. yeah, tari tradisional. pertamanya sih, aku biasa saja menyikapinya. tapi lama-kelamaan pelajaran ini jadi merepotkan sekali. menyita waktu, menghabiskan biaya, membuat pelajaran lain terbengkalai. asal tahu saja, kelas 10 itu masa-masanya mempersiapkan penjurusan, selain itu pelajaran selain seni itu banyak, dan……. waktu kami bukan hanya untuk menari. plis. kalau diingat-ingat lagi aku jadi sedih.

kenapa satu tahunku harus untuk menari saja?

dan sekarang, hampir mereka memutuskan untuk satu tahun kedepan, kami, akan menari lagi. apa pak ***** hanya bisa menari, pak? kalau iya, kenapa menjadi guru seni di sini? dengan berat hati saya mengatakan kecewa.

kalau saja takdir bisa diubah, aku ingin bertemu dengan kesenian lain.

mana seni rupaku? mana seni musikku? rindu sekali rasanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s