gara gara kamera tua

gara gara kamera tua

ini salah satu cerpen buatanku

kalo gak disuruh guru gak bakalan bikin sampei selese !

.

Pagi ini tiba-tiba hujan deras. Sangat deras. Padahal Mary belum menemukan bahan makanan yang cukup untuk hari itu. Ia sudah terbiasa mencari bahan-bahan makanan di sebuah gunung kecil, dan gunung kecil itu tak jauh dari rumahnya. Ia pergi ke gunung kecil itu seminggu sekali. Biasanya Mary tak pernah sampai kehujanan seperti ini, karena hari-hari sebelumnya memang belum musim hujan. Mary kebingungan, ia tak menyiapkan payung dari rumah. Untuk sementara, ia berteduh di bawah pohon-pohon tinggi dan rimbun yang berada di sekelilingnya.

Hari sudah siang, tapi matahari masih enggan menampakkan cahayanya yang menghangatkan itu. Hujan tak mau berhenti, walau berapa lama pun Mary menunggu. Saat ia hampir terlelap, tiba-tiba Mary melihat Ann dan Popuri berlari menembus derasnya hujan. Mereka berlari ke arah puncak. Mary terkaget, ia segera memanggil mereka. Tetapi Ann dan Popuri tak mendengarnya, karena suara Mary memang kecil dan terlahap oleh suara hujan. Apa boleh buat. Mary ikut berlari mengejar Ann dan Popuri.

Sekarang di depan Mary, sedang berdiri sebuah rumah tua. Tadi ia melihat Ann dan Popuri masuk ke rumah itu. Mary berdiri di depan rumah tersebut, terbengong-bengong. Berkali-kali Mary mengunjungi gunung ini, tak pernah ia melihat rumah itu sebelumnya. Tapi yangterpenting sekarang bagi Mary adalah bertemu Ann dan Popuri. Mary pun masuk.

Di dalam rumah tua itu gelap. Pengap. Tak ada satu suara pun terdengar, kecuali hentakan kaki Mary sendiri. Suara Ann dan Popuri pun tak terdengar. Di mana mereka? Mary ketakutan berada di rumah itu. Tiba-tiba ia membayangkan banyak kelelawar berterbangan, ada vampir, drakula dan makhluk semacamnya. Ia bergidik sendiri. Padahal sebenarnya tak ada.

Akhirnya dengan terpaksa ia mencari Ann dan Popuri saja daripada pulang ke rumah dengan keadaan lebih basah kuyub lagi, walaupun sebenarnya Mary sudah tak tahan lagi berada di rumah tua itu. Ia memutuskan untuk pulang setelah menemukan Ann dan Popuri. Mary meneruskan pencarian, seperti lagaknya detektif. Setiap barang yang ia temukan, ia mengambilnya. Misalnya ia mengambil sampah plastik dan kulit pisang busuk, ia masukkan ke keranjang bahan makanannya. Menjijikkan sekali.

Ketika Mary sampai di ujung sebuah lorong panjang yang ada di rumah tua itu, ia menemukan sebuah kaca. Kaca itu dihiasi pinggiran bermotif aneh dan mengerikan. Tiba-tiba dari sisi belakang badan Mary ada kilatan cahaya yang memantul ke cermin dan membentuk bayangan yang mengerikan, walaupun itu adalah bayangan Mary sendiri. Mary menjerit sagat keras ketakutan. Padahal biasanya ia tak pernah mengeluarkan suara sekencang itu. Ternyata tadi Ann dan Popuri memotret Mary dari belakang. Mereka juga ikut berteriak karena Mary berteriak. Jahil sekali mereka!

Mary meninggal seketika. Dan itu semua adalah kesalahan Ann dan Popuri yang mengagetkan Mary hingga mengakibatkan hal yang sangat fatal. Ann dan Popuri merasa sangat bersalah. Hari sudah sore, dan mereka pun pulang dengan kesusahan karena membawa mayat Mary yang berat. Mereka bertiga tak punya sanak saudara, jadi Ann dan Popuri terselamatkan karena tidak bisa dituntut membunuh Mary oleh keluarganya. Hahaha.

Langit masih mendung. Tapi hujan sudah agak reda. Ann dan Popuri mengubur mayat Mary dengan wajah berair. Bukan karena menangisi kepergian Mary, tapi karena gerimis masih membasahi bumi, dan airnya menetes ke muka mereka. Untuk terakhir kalinya, dipotretnya Mary bersama kuburannya untuk kenang-kenangan bagi Ann dan Popuri. Mereka telah kehilangan teman bermain sejak kecilnya. Kamera yang dibuat memotret Mary sejak tadi baru saja mereka temukan di rumah tua itu. Tanpa mereka sadari, sebenarnya semua makhluk hidup yang terpotret kamera itu akan meninggal kelak, cepat atau lambat, pasti mati. Padahal, yang terpotret bukan hanya  Mary. Karena Ann dan Popuri memotretnya dari depan kaca, otomatis mereka bertiga ikut terpotret . .

Hari sudah malam, Ann dan Popuri tak punya persediaan makanan. Tadi, mereka belum putus asa kalau soal bahan makanan. Mary selalu mencarinya. Tapi ketika mereka melihat isi keranjang yang biasa dibawa Mary saat mencari bahan makanan, mereka sangat kecewa. Jelas iya, yang benar saja, isi keranajang Mary hanya beberapa sampah plastic dan satu kulit pisang busuk yang sudah disemuti. Akhirnya mereka menangis kelaparan, dan sesekali mereka meminum air mata yang dikeluarkannya.

Esoknya pada pagi hari, Ann dan Popuri yang tidak biasa mencari bahan makanan di gunung itu mencoba mencari bahan-bahan yang bisa dimakan. Tapi mereka salah tempat, yang bisa diambilnya dari gunung itu hanya beberapa cabai dan anjing yang ditangkap hidup-hidup. Karena Popuri tak suka anjing bakar atau anjing goreng dan benci anjing, ia langsung melepaskan ikatan tali yang dipasang Ann supaya anjing itu tak kabur. Padahal Ann susah-susah menangkap anjing itu untuk dipelihara, bukan dimakan untuk dijadikan hot dog.

Ann yang marah karena anjingnya dilepaskan oleh Popuri ingin balas dendam. Ia membeli nasi yang didapatkan dari uangnya yang hanya seribu rupiah. Nasi semurah itu juga ia beli dari pengamen jalanan. Setelah itu, Ann mencampurkan semua cabai yang ia dapat dari gunung kecil itu ke nasi yang ia beli tadi, hingga nasi itu menjadi merah sekali. Tak lama, ia memberikan nasi itu ke Popuri. Popuri senang sekali. Baru ia makan satu suapan, dan nasinya belum masuk ke lambungnya, ia langsung terbatuk-batuk tak mau berhenti. Nafasnya tersengal, matanya berair, begitu tersiksanya di karena kepedasan. Popuri pun meninggal menyusul Mary. Kasihan Popuri, ia meninggal karena kepedasan. Sungguh kematian yang memalukan.

Ann yang tak mengira hanya gara-gara memakan nasi pedas itu Popuri langsung meninggal, menyesal untuk yang keduakalinya. Walaupun tadi Ann menyesal, tapi ketika tadi ia melihat Popuri terbatuk-batuk ia sempat tertawa senang. Penyesalan selalu datang terlambat. Untuk yang terakhir kalinya lagi, ia memotret jenazah Popuri.

Sekarang Ann tak tahu lagi harus hidup dengan siapa. Ia bingung. Mary dan Popuri sudah meninggal. Anjingnya sudah hilang. Ia sedih sekali. Kamera tua yang menurut dia selalu membawa kesialan itu di bantingnya, ditendangnya, terlempar hingga ke jalanan dan terlindas oleh truk raksasa. Ia sangat emosi. Semut-semut yang tak punya salah saja langsung diinjaknya. Kecoak yang lewat juga takut dengan tampangnya Ann dan langsung kabur ketakutan.

Suatu hari, beberapa hari setelah Popuri meninggal, Ann yang sejak itu jadi kurus sedang merebus air. Saking kurusnya, ia tak kuat mengangkat rebusan air yang dia rebus sendiri. Dan karena wadahnya panas juga, Ann menjatuhkan rebusan air itu. Ketika ia akan membersihkan tumpahannya, ia melongok ke bawah. Ann menemukan bubur sup merah yang masih hangat. Tidak tahu asalnya darimana dan darisiapa, tanpa menghirup nafas terlebih dahulu Ann langsung memakan bubur sup merah tersebut sampai habis. Satu detik kemudian dari mulutnya keluar busa putih banyak sekali, seperti keracunan. Ann tak sadar kalau ia menumpahkan air yang baru saja direbusnya ke wadah nasi pedas yang dibuatnya dulu untuk Popuri. Nasi yang sudah berjamur itu kemasukan air panas yang direbus Ann, sehingga nasi itu menjadi bubur. Dan warna merahnya karena nasinya tercampur cabai merah.

Sayang sekali, jenazah Ann tak ada yang mengetahui. Jadi sampai saat ini pun mayatnya masih ada di dekat gunung kecil itu di suatu tempat. Tak ada yang mengubur. Pada akhirnya juga memang benar kalau yang terpotret kamera tua itu akan meninggal. Tapi, walaupun tak terpotret kamera itu juga semua makhluk di dunia ini pasti meninggal, kan? :)

Advertisements

4 thoughts on “gara gara kamera tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s